Kamis, 15 Juli 2010

Pornografi Menurut Perspektif Islam

Beberapa waktu yang lalu, sempat santer isu mengenai Rancangan Undang-undang anti Pornografi dan Pornoaksi. RUU tersebut mendapatkan sambutan dan kontra dari berbagai pihak di Indonesia. Semua pihak memiliki alasannya masing-masing mengenai hal tersebut. Ada yang kontra karena alas an seni, budaya, dan estetika. Tapi ada juga yang mendukung karena alas an moralitas bangsa yang dinilai semakin menuju pada kebobrokan. Di luar semua itu, dalam Islam telah terdapat aturan yang jelas mengenai masalah pornografi dan pornoaksi ini. Dalam Islam pula, terkandung ajaran yang bisa mengatasi masalah pornografi dan pornoaksi ini, tanpa menganggu kebudayaan dan esensi dari seni. Dalam bahasan ini, akan kita temui, bagaimana Islam memandang Pornografi dan Porno aksi, secara universal dan tak merugikan semua pihak.

Porno (cabul): adalah segala hal (grafik, aksi, suara) yang mampu menaikan nafsu birahi seseorang yang berkenaannya. Jadi porno merupakan salah satu perangsan nafsu manusia. Kita mengenal hawa nafsu dalam berbagai bentuk, nafsu sex, nafsu makan, nafsu minum, nafsu marah, nafsu ambisi, dan nafsu-nafsu lainnya. Nafsu merupakan salah satu sifat kodrati yang dimiliki semua manusia hidup. Apakah nafsu hanya dimiliki oleh orang sadar? Ternyata tidak, nafsu merupakan instinc manusia. Jadi orang gila pun tetap mempunyai hawa nafsu.

Dalam Islam, hawa nafsu memang sudah menjadi perhatian khusus. Hawa nafsu ini memang diatur dan dijelaskan secara baik mengingat hawa nafsu ini bisa menimbulkan dampak yang bisa merugikan diri sendiri maupun merugikan orang lain. Yang sangat fatal adalah hawa nafsu yang mampu merugikan pihak lain, salah satunya adalah nafsu sex liar yang mampu menimbulkan pemerkosaan. Kembali lagi, porno merupakan pemicu ampuh yang menaikan nafsu birahi tadi. Nafsu timbul dari dalam diri manusia. Yang mampu mengatur nafsu pun hanya manusia itu sendiri.

Nafsu sangat terikat dengan yang namanya SELERA (taste). Dalam nafsu makan kita jelas mengenal yang namanya selera ini. Tidak semua orang doyan dengan yang namanya nasi rawon, sushi, kebab, dan lain sebagainya. Hal ini sangat berkaitan dengan selera, dan selera ini bisa berlatar belakang budaya, ras, suku, bangsa, bahkan agama. Saya sebagai orang muslim jelas tidak berselera melihat hidangan babi di depan meja makan saya. bisa jadi. Saya tidak makan babi karena saya mengikuti ajaran agama saya, Islam. Lantas bagaimana ajaran Islam mengatur hawa nafsu ini?

Setiap tahun, pada bulan Ramadhan orang Islam diperintahkan untuk menunaikan ibadah puasa, yaitu ibadah menahan hawa nafsu. Perintah ini ditujukan untuk perorangan / individu bukan komunal. Artinya setiap orang beriman diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa ini. Ibadah ini sangat bersifat private, artinya sesama orang Islam yang menjalankan puasa pun tidak bisa mengenali apakah seseorang ini menjalankan puasa atau tidak, apalagi jika ia berbohong. Puasa ini dilakukan semata-mata untuk melatih manusia dalam mengatur dirinya terhadap segala jenis hawa nafsu. Salah satu nafsu di sini ya jelas saja nafsu birahi.

Sebetulnya di dalam ajaran Islam, tidak ada aturan yang menjelaskan bahwa di saat bulan puasa orang non-muslim tidak boleh makan di depan orang puasa, restauran non-muslim harus ditutup. Apapun yang terlihat oleh orang Islam saat menjalani puasa adalah ibadah, cobaan dan ujian yang harus dihadapi. Kalaupun di Indonesia akhirnya banyak rumah makan yang tutup ini dikarenakan toleransi beragama saja. Dalam Islam, manusia dididik secara utuh sebagai individu, tidak ketergantungan apalagi menyalahkan orang lain. Misalnya, saya tidak puasa karena rumah makan dekat kampus saya buka, lantas saya menyalahkan kegagalan saya berpuasa karena rumah makan tersebut. Sangat tidak Islami.

Kembali ke masalah pornografi dan pornoaksi. Porno menimbulkan hawa nafsu birahi. Hawa nafsu ini harus diatur oleh manusia. Nafsu ini pun masih berkaitan dengan selera. Sebagai contoh ada sebagian orang terutama kaum lelaki yang naik birahinya ketika melihat tarian atau goyangan penyanyi dangdut di panggung yang menjurus ke erotis. Tapi ada juga sebagian orang yang menganggapnya biasa-biasa saja. Mereka ini tidak terpancing birahinya dengan hal-hal seperti itu saja. Mereka baru bernafsu ketika melihat video porno atau materi-materi lainnya. Oleh karena itu, sebenarnya hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah penyebaran materi-materi porno melalui media. Bukan orang yang dilarang untuk mengkonsumsi materi porno tersebut.

Dalam Islam kita mengenal aurat, yaitu bagian tubuh yang tidak semestinya diperlihatkan. Karena jika ini diperlihatkan maka dikhawatirkan mampu menimbulkan hawa nafsu bagi yang melihatnya.

Allah berfirman,” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (TQS.AnNur (24) : 31

Dengan demikian dalam Islam sangat disarankan untuk menjaga aurat. Lantas bagaimana jika kita melihat wanita yang terbuka auratnya? Dalam Islam, ia dikategorikan syaitan (penggoda). Dalam UU di Indonesia, dia bisa dikenakan sangsi. Bukan dari UU APP tapi dari pidana bertindak cabul.

Jika kita melihat tuntutan para demonstran yang kontra RUU-APP ini, mereka mendalihkan pornografi ini sebagai kebobrokan mental bangsa. Hal itu tidak salah namun tidak akan memberikan perbaikan yang signifikan jika RUU-APP di sah-kan sekalipun. Dalam Islam jika orang bermental bobrok salah satu pelatihannya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara sholat dan melatih menahan hawa nafsu dengan menjalankan puasa. Baik itu puasa wajib pada Bulan Ramadhan, maupun puasa sunnah. Dengan cara ini, diharapkan dia bisa mengendalikan nafsu dan ambisi buruknya.

Hukuman bagi orang yang melakukan tidak pidana pemerkosaan sangat berat dan menyakitkan. Hal ini diterapkan karena sebagai peringatan bahwa memperkosa itu adalah perbuatan yang keji dan sangat hina. Hukuman yang berat ini dimaksudkan agar tidak ada orang yang berani melakukannya. Dalam pandangan masyarakat sekarang, hukuman yang terlalu berat seperti rejam dan mati dinilai tidak manusiawi. Padahal inti dari hukuman itu sendiri adalah agar tidak ada yang berani melanggarnya, bukan untuk dilanggar. Pemerkosaan hanyalah salah satu kasus atau tidakan yang harus ada hukuman agar pelakunya jera. Pemerkosaan adalah pelanggaran. Sementara nafsu, tidak selamanya buruk, termasuk nafsu sex. Sepasang suami-isteri jelas membutuhkan nafsu sex yang baik dan sehat saat melakukan hubungan intim, apakah salah? Inilah yang dimaksud “mengendalikan” hawa nafsu. Muncul saat dibutuhkan, menahan saat tidak dibutuhkan. Islam sadar akan perbedaan ini. Makan adalah nafsu, makan berlebihan adalah tidak di sarankan, makan bersisa pun tidak disarankan atau mubadzir, tapi makan babi sudah pasti hukumnya haram alias dilarang. Apakah karena hidangan babi, akhirnya setiap restoran yang menyajikan babi pun harus ditutup? Tentu tidak.

RUU-APP, tidak akan pernah bisa menjelaskan secara detil poin-poin yang dikategorikan pornografi. Bagi orang Islam aturan ini sudah sangat jelas, jadi tidak perlu ada RUU-APP. Yang menurut saya lebih dibutuhkan oleh orang Islam adalah, UU yang mengatur penyiaran TV, peredaran majalah dan koran, peredaran DVD, VCD, dan media lainnya yang menampilkan gambar, suara, tulisan cabul. Semua ini bisa diatur dan dibatasi aturan mainnya dalam Undang-Undang. Tidak liar dan tidak longgar. Tidak akan ada suku atau budaya yang tersinggung. Karena sangatlah tidak relevan ketika budaya dihadapi dengan aturan agama Islam.

Pornografi dan pornoaksi pada intinya adalah masalah moralitas. Kita tidak bisa mengendalikan peredaran materi pornografi dan pornoaksi ini dari manusia itu sendiri agar tidak mengkonsumsinya. Tapi pemerintah perlu untuk mengendalikan peredaran materi-materi porno dengan perundangan yang jelas dan tegas. Awasi media elektronik terutama televise dalam penyiarannya. Memang di era reformasi ini kita bebas untuk berpendapat dan berkreasi, tapi perlu diingat lagi hak tiap manusia dibatasi pula oleh hak orang lain. Jangan kita hanya memikirkan kepentingan dan kepuasaan untuk diri sendiri, tapi ingat pula nasib dan perkembangan moral dan mentalitas generasi muda nanti.

Referensi :http://dpm.web.id/akademis/tugas/pornografi-menurut-perspektif-agama-islam-189

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar